|
|
Kembali
Mengapa Tak Mau Berdo'a
..... ?
Saya tak bisa bahasa Arab, saya malu memimpin do'a selepas sholat jamaah bersama teman saya, apalagi didepan jamaah yang lain.
Pernahkah pengalaman ini menimpa kita? Insya Allah tidak. Tapi andaikata pernah, janganlah khawatir. Sungguh Allah itu mengerti segala macam bahasa. Jangan malu untuk berdo'a dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Yang terpenting adalah kita masih mau berdo'a. Kalimat terakhir ini mengundang pertanyaan, Mengapa sih kita harus berdo'a?
Allah adalah Tuhan kita satu-satunya. Dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (QS 112:2). Dalam surat Al-Fatihah kita berseru, Iyyaaka Na'budu wa Iyyaaka Nasta'iin (Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan). Karena itu, kalau ada orang yang mengaku bahwa Allah itu Tuhannya lalu ia tak mau berdo'a maka pantas kalau kita sebut orang tersebut orang sombong. Bukankah Allah telah berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60).
Betulkah setiap do'a akan dikabulkan oleh Allah? Boleh jadi ada diantara kita yang telah berdo'a sesuatu namun tak kita rasakan hasil dari do'a tersebut. Pertama, harus disadari bahwa kita ini 'hamba' sehingga tak berhak memaksa Allah. Kita yang membutuhkan Allah; bukan sebaliknya.
Kedua, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Boleh jadi, sebuah do'a yang kita minta bila dikabulkan oleh Allah justru ujung-ujungnya dapat menimbulkan kesulitan dalam hidup kita atau mungkin Allah punya ketentuan lain yang tak kita ketahui. Sebagai contoh, Nabi Nuh berdo'a agar anaknya diselamatkan dari banjir dahsyat, Tuhan tidak mengabulkannya dan bahkan menegur Nabi Nuh sehingga Nabi Nuh pun berdo'a: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya) dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.' (QS 11: 47) Allah Maha Tahu, maka do'a kita kadang kala bukan tak dikabulkan tapi ditunda waktunya, atau malah diganti dengan yang lebih baik. Wa Allahu A'lam.
Ketiga, sudah seberapa jauh usaha kita untuk 'meminta' dan 'memelas' pada Allah. Nabi Zakariya sendiri telah puluhan tahun berdo'a namun belum dikabulkan Allah. Tapi berbeda dengan kita yang cenderung tak sabar, Nabi Zakariya berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Tuhanku.' (QS 19:4)
Begitulah sikap kita seharusnya: jangan pernah kecewa dalam berdo'a. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa 'Aku ini bagaimana persangkaan hambaKu saja...' Maksudnya, kalau kita dalam berdo'a belum-belum sudah beranggapan bahwa do'a ini tak akan dikabulkan, yah begitulah jadinya. Insya Allah kita selalu berbaik sangka dan tak pernah kecewa dalam berdo'a.
Dalam berdo'a kita diminta untuk berharap-harap cemas (QS 21:90). Artinya, kita berharap do'a kita akan dikabulkan, namun disisi lain kita juga cemas kalau-kalau do'a ini tidak dikabulkan. Gabungan perasaan inilah yang menjadi etika dalam berdo'a. Kita tidak terlalu yakin pasti akan dikabulkan, namun juga tidak putus asa. Etika lainnya adalah kita disuruh berdo'a dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut (QS 7:55). Kalau kita jalani etika berdo'a ini insya Allah hati kita akan tergetar dan seringkali tanpa sadar air mata menggantung di pelopak mata.
Suatu ketika ada seorang sahabat yang selalu terburu-buru untuk beranjak pergi selepas mengerjakan shalat, Rasulullah selalu memperhatikannya. Kemudian Rasulullah menegurnya : "Apakah kamu tidak punya hajat kepada Allah?" Akhirnya sahabat tersebut sadar. Bahkan garam pun beliau minta kepada Allah.
Pendek kata, berdo'alah baik dalam keadaan sehat-sakit, suka-duka, kaya-miskin, berdiri-duduk-berbaring, pagi-siang-malam. Mintalah apapun pada-Nya. Karena Dialah Allah yang Maha Kaya.
TAUSYIAH LAINNYA
Ketika Dosa Anda Sedalam Samudera
Dusta yang Mana Lagi...?
Mengapa Tak Mau Berdo'a....?
|
 |